Budi Rahardjo

Sejarahnya, ketika komputer baru saja dimulai dalam bentuk mainframe, sistem operasi dan bahkan software tidak dijual. Mereka dijadikan bagian dari penjualan perangkat keras, istilah sekarang adalah bundled. Perangkat keras memang harus dijual karena ada wujud bedanya yang memang ada harga fisiknya.

Kemudian komputer pribadi dalam bentuk customer product mulai muncul dengan dimotori oleh Apple dengan komputer Apple yang diproduksi. Sebelumnya hanya ada komputer kit, yaitu komputer Altair. Pada saat itu mulailah muncul persahaan penjual software, seperti Microsoft. Sistem operasi juga dijual tetapi masih menjadi bagian dari perangkat keras.

Selanjutnya sistem operasi mulai muncul dan dijual secara terpisah dari perangkat keras karena adanya dorongan untuk melakukan upgrade. Kemampuan perangkat keras yang ada masih cukup bisa bertahan sehingga hanya perlu diperbaharui sistem operasinya saja. Sistem operasi juga dimulai ramah penggunaanya sehingga dapat dipasang sendiri oleh seorang pengguna biasa. Dia tidak perlu dipasangkan oleh vendor pembuat perangkat keras. Maka sistem operasi pada masa itu masih sulit dikembangkan oleh orang biasa. Akibatnya tidak banyak pilihan sistem operasi dan sifatnya tertutup. Kemudian sistem operasi mulai diajarkan dikampus-kampus. Maka mulai mumcullah sistem operasi eksperimen. Pada saat yang sama mulai muncul gerakan Free Software (sebelum muncul gerakan open source). Maka ide membuat sistem operasi yang bebas, seperti GNU/Hurd, juga mulai muncul.

Sistem operasi berbasis BSD mulai muncul di kampus-kampus dan mulai mendapat perhatian . Kemudian Linus mulai mengembangkan Linux dan akhirnya menjadi salah satu sistem operasi yang populer saat ini. Sudah populer, bebas dan bisa gratis lagi. Maka mulai muncullah variasi dan kembangan dari Linux ini untuk berbagai platform dan berbagai kebutuhan.

Ini semua membuat bandul pendahulu kembali ke seperti dulu, yaitu sistem operasi dapat dijadikan satu dengan perangkat keras. Sistem operasi tidak perlu dijual lagi.

Jika dilihat dari kacamata pengguna, yang dibutuhkan adalah aplikasi. sebagian besar pengguna tidak terlalu peduli dengan sistem operasi, meskipun pemilihan sistem operasi menentukan ketersediaan aplikasi karena saat ini masih ada aplikasi yang hanya dapat diperoleh di sistem operasi tertentu. Jadi pemilihan sistem operasi sebetulnya didorong oleh pemilihan aplikasi.

Kondisi ketergantungan kepada sistem operasi bakal berubah. Perubahan suda mulai terlihat dengan adanya pendekatan sewa software, yang dikenal dengan istilah software as a service. Pengguna bahkan tidak peduli lagi kepada aplikasi selama apa yang diinginkan bisa dia lakukan.

Apakah kondisi sistem operasi tidak perli dijual akan terus bertahan? Kalau kita melihat sejarah, nampaknya pendulum akan selalu berayun. Hanya masalahnya adalah kapan dia berayin ke sisi lain dan bentuk perubahannya seperti apa. Untuk sementara ini mari kita nikmati adanya kebebasan terhadap sistem operasi ini.

Sumber : infolinux, 2/2011