Sebagai sebuah ide, smart city atau kota pintar mungkin terdengar rumit. Apalagi pemahaman dan persepsi pemerintah kota tentang kota pintar ini bisa berbeda antara satu kota dengan kota yang lain. Nah cobalah sembilan langkah berikut untuk memudahkan inisiasi proyek kota pintar.

Setiap kota memiliki masalah dan kebutuhan sendiri-sendiri. Setiap kota memiliki kekuatan sumber daya yangberbeda-beda. Setiap kota memiliki karakteristik masyarakat yang tidak sama. Tidak mengherankan jika terkadang ada pemerintah kota yang tidak tahu harus memulai proyek smart city-nya dari mana.

“Semua satu definisi sama lain [tentang sebenarnya smart memiliki city] yang elemen inti—yakni cara pemerintah kota memanfaatkan teknologi dan data yang mereka kumpulkan untuk mengatasi berbagai tantangan yang pelik, misalnya meningkatkan efisiensi dalam hal budgeting, mengindentifikasi fraud dalam program layanan sosial, atau melakukan penjadwalan terhadap kegiatan kota secara lebih logis dan lebih efisien,” kata Brian Cotton (Vice President, Frost & Sullivan Information and Communication Technologies Growth Consulting) seperti dikutip dari situs Govtech. Com.

Teknologi dan data akan memampukan pemerintah kota membuat keputusan secara lebih baik. Hasil analisis aneka jenis data tersebut juga akan memberikan insight atau wawasan baru yang dapat membantu memecahkan berbagai masalah yang dihadapi sebuah kota, misalnya wawasan tentang pencegahan kriminalitas, penanggulangan keadaan darurat, dan bidang-bidang lainnya. Setiap kota besar atau kecil—dapat bertransformasi menjadi kota pintar. Prosesnya kurang lebih sama. Ada sembilan langkah yang sebaiknya dipertimbangkan pemerintah kota ketika ingin mengubah kotanya menjadi lebih pintar. .

1. Pelajari konsep smart city

Smart city bukan sekadar tempat atau wadah mendemonstrasikan teknologi terbaru. Membangun kota pintar berarti mencapai sesuatu. Oleh karena itu, pemerintah kota dan semua pihak yang terlibat dalam proyek ini sebaiknya mempelajari dengan baik konsep smart city dan memastikan bahwa proyek ini sesuai dengan apa yang mereka inginkan.

2. Cari tahu masalah yang perlu diatasi

Ingin memecahkan masalah kemacetan lalu lintas, mobilitas warga, keamanan, atau pengelolaan sampah? Jika ya, sebaiknya pemerintah memahami terlebih dahulu kebutuhan dan prioritas warga maupun pebisnis. Pastikan bahwa warga maupun pebisnis menginginkan perubahan tersebut. Jangan sampai fasilitas atau kemampuan yang dibangun tidak dimanfaatkan sama sekali oleh warga. Atau fasilitas tersebut memenuhi kebutuhan yang sangat spesifi k, sehingga tidak banyak warga yang bisa menikmatinya.

3. Tentukan pemimpin dan kembangkanvisi yang dapat melibatkan semua orang.

Membangun smart city adalah sebuah visi jangka panjang, sebuah visi yang akan mengubah masa depan kota, warga, dan para stakeholder-nya. Oleh karena itu, proyek smart city membutuhkan kepemimpinan yang dinamis, mulai dari walikota hingga kepala-kepala dinas di jajaran pemerintah kota. Mereka harus memahami dan sepenuhnya mendukung visi smart city. Buatlah perencanaan dan komunikasikan visi tentang kota pintar ini, dan ikut sertakan para stakeholder.

4. Berbagi data

Open data adalah hal yang sangat penting, terutama untuk membangun sebuah ekosistem dalam proyek smart city. Pemerintah kota harus terkoneksi dengan pebisnis, institusi pendidikan, rumah sakit dan institusi kesehatan, dan lain-lain. Lalu, berbagi data. Transparansi data dan pemanfaatannya secara inovatif dapat menjadi satu langkah besar untuk mewujudkan mimpi smart city.

5. Edukasi warga

Membangun smart city tentu tidak akan relevan jika penduduknya tidak memahami cara memanfaatkan

teknologi. Warga perlu memahami manfaat dari teknologi yang digunakan, dan jika memungkinkan, libatkan warga dalam prosesnya. Ketika pemerintah memasang sensor untuk mengukur tingkat polusi udara, warga harus mengetahui bahwa mereka bisa secara langsung membaca seberapa baik atau buruk kualitas udara di lingkungan mereka. Dengan demikian, warga akan lebih bersemangat membantu pemerintah mewujudkan lingkungan yang lebih bersih.

6. Buat sebuah business case

Kota bukan sekadar tempat hidup, tetapi kota dapat menjadi ladang bisnis. Berbagi data dan menambahkan nilai pada data tersebut adalah cara menuai manfaat dari visi smart city. Proyek smart city juga bisa menarik minat perusahaan atau vendor teknologi dan institusi akademis. Dan ketika smart city sudah terwujud, aneka fasilitas, proses yang efisien, dan data terbuka dapat makin menggeliatkan bisnis di kota tersebut.

7. Pertimbangkan cloud computing

Sebuah kota mungkin tidak dapat melakukan implementasi, menjalankan aktivitas operasional, dan pemeliharaan yang dibutuhkan untuk mendukung kemampuan analytics. Padahal kemampuan data analytics sangat dibutuhkan untuk memberi insight baru bagi pengelola kota atau untuk menambah nilai data yang “Build, Operate, Transfer”: Model ini mengharuskan pemerintah kota menunjuk pihak lain untuk membangun infrastruktur smart city. Kemudian dalam jangka waktu tertentu, pemerintah akan mengambil-alih saat sistem sudah berjalan. “Open Business Model”: Pemerintah kota akan memberikan kesempatan pada pihak lain untuk membangun infrastruktur kota pintar dan menyelenggarakan layanan, tetapi hal ini diatur melalui pedoman dan regulasi yang spesifik. “Public-Private Partnership”: Dalam model ini, pemerintah kota menjalin kerjasama dengan mitra dari sektor swasta.

9. Tentukan proyek awal

Sebaiknya pemerintah menerapkan metode start small and scale up agar nantinya tidak kewalahan menangani proyek.

(Naskah: Liana Threestayanti, InfoKomputer, November 2016)