Pada umumnya peneliti mengetahui bahwa sebenarnya menulis suatu karangan itu tidaklah mudah. Sering kali peneliti mengalami bagaimana sulitnya menuliskan atau menuangkan tulisan fikiran-fikiran, gagasan-gagasan, kata demi kata supaya mudah dicerna oleh orang lain yang membaca. Di dalam fikiran peneliti rasanya banyak yang dapat ditulis namun begitu mulai menulis rasanya peneliti kehabisan kalimat. Kesulitan dalam hal menulis ini bisa peneliti melihat kenyataan lemahnya kesanggupan menulis pada paper, skripsi atau tesis yang disusun oleh seorang mahasiswa calon sarjana.

Para peneliti belum terbiasa menggunakan bahasa dengan baik dan benar, kadang-kadang kalimatnya sukar dimengerti sehingga dosen pembimbingnya terpaksa harus berusaha menafsirkan sendiri apa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat tersebut. Kelihatan sekali mereka kurang sekali berlatih dalam karang mengarang.

Sebetulnya latihan mengarang sudah diberikan sejak peneliti masih SMP juga dilanjutkan di SMA, sedang kalau sudah di Perguruan Tinggi seorang mahasiswa wajib menulis sebuah karangan yang disebut dengan tugas akhir atau skripsi.

Penulisan sebuah karya tulis seperti tugas akhir atau skripsi tidak sama dengan kalau peneliti menulis sebuah karya tulis pada umumnya, ada kaidah-kaidah atau aturan tertentu yang harus diikuti oleh seorang mahasiswa yang sering disebut aturan melaksanakan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah berupa pembuatan tugas akhir atau skripsi bisa saja berbeda pada semua perguruan tinggi sesuai dengan displin ilmu dari perguruan tinggi tersebut namun secara prinsip sebenarnya sama saja.

Penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keinginantahuan manusia yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau permasalahan. Setiap pertanyaan atau permasalahan diperlukan jawaban atau pemecahannya, sehingga yang bersangkutan akan mendapatkan pengetahuan baru yang dianggapnya benar.

Dengan pengertian asumsi bahwa yang benar adalah yang bisa diterima akal dan berdasarkan fakta empirik, maka pencarian pengetahuan yang benar haruslah berlangsung menurut prosedur atau hukum yang menjadi kaidah bekerjanya akal, yaitu logika. Aplikasi dari logika disebut penalaran. Pengetahuan yang benar disebut juga dengan pengetahuan ilmiah atau ilmu (sains).

Banyak alasan mengapa manusia melaksanakan penelitian: antara lain adanya Permasalahan, adanya ketidak-enakan dalam bekerja, adanya kurang nyaman dalam melaksanakan suatu pekerjaan: sehingga manusia mencari jalan bagaiaman supaya segala sesuatu itu bisa lebih benar, lebih baik dalam mengerjakannya, atau dengan kata lain mereka berusaha mencari sendiri bagaimana mendapatkan kemudahan dalam menjalankan tugas atau pekerjaannya sehari-hari.

Ada dua cara dalam mereka memecahkan permasalahan yaitu dengan:

  1. Cara berfikir analitik: dari dasar-dasar pengetahuan umum, proporsi yang berlaku umum dengan meneliti persoalan khusus dan kesimpulan ditarik secara deduktif pembuktian secara a’priori.
  2. Cara berfikir sintetik landasan fikiran pengetahuan khusus, faktor yang unik, merangkai faktor-faktor khusus menjadi suatu pemecahan yang umum. Kesimpulan ditarik secara induktif, sedang pembuktian kebenaran bersifat aposteriori.

Manusia mau penelitian? Tentunya harus mempunyai beberapa hal khusus seperti:

  1. Harus memahami dasar-dasar yang menjadi tumpuan berfikir metodik, khususnya dalam rangka sistematik penelitian.
  2. Menyadari kebenaran ilmiah yang menjadi tujuan
  3. Mengetahui cara menjuruskan jalan fikiran
  4. Mengetahui arti penting Hipotesis
  5. Mengetahui prinsip-prinsip pengukuran
  6. Mampu membedakan antara populasi dan sampel
  7. Mengetahui kebiasanaan akademik dalam menentukan pola penelitian

Penelitian pada hakekatnya dimulai dari hasrat keinginantahuan manusia yang dinyatakan dalam bentuk pertanyaan atau permasalahan.

Sumber : Metodologi Penelitian Teknologi Informasi – Rudy Setiawan