Dalam melakukan penjadwalan proses, sistem operasi mempertimbangkan faktor antara lain:

  1. Keadilan (Faireness), proses-proses harus diperlakukan sama, yaitu mendapatkan jatah waktu prosesor secara adil, namun tidak selalu berarti bahwa jatah waktu yang sama. Selain itu dipastikan tidak terjadi starvation, yaitu terdapat proses yang tidak terlayani dalam jangka waktu yang lama.
  2. Efisiensi (Processor Utilization), penjadwalan menjaga agar prosesor terpakai secara terus menerus selama masih ada proses yang aktif di antrian ready. Umumnya proses-proses yang sedang menunggu inputan ataupun operasi I/O akan diblok dan berstatus blocked, sehingga tidak ikut dalam penjadwalan proses dan tidak memboroskan siklus hidup prosesor.
  3. Waktu tanggap (Respon time), waktu tanggap diusahakan seminimal dan sependek mungkin. Waktu tanggap pada sistem interaktif dalam durasi waktu antara pengguna memberikan input dengan sistem operasi memberikan output atau umpan balik kepada pengguna. Faktor ini juga disebut dengan terminal response time. Pada sistem real-time, response time merupakan durasi atara terjadinya suatu kejadian (event), baik eksternal maupun internal, dengan saat sistem memberikan tanggapan sehingga sering juga disebut dengan event response time.
  4. Waiting time, pada lingkungan sistem komputer konkuren berprosesor tunggal, dalam satu waktu hanya satu proses yang running, sedangkan proses-proses lainnya menunggu di antrian ready. Waiting time merupakan durasi waktu yang dihabiskan suatu proses dalam antrian ready selama siklus hidupnya. Secara umum, algoritma penjadwalan yang baik menghasilkan rata-rata waiting time yang kecil untuk seluruh proses.
  5. Turn Around Time, terjadinya penjadwalan menyebabkan waktu total yang dibutuhkan suatu proses untuk menyelesaikan tugasnya menjadi lebih lama karena harus menunggu jika prosesor dijadwalkan ke proses lainnya. Turn around time merupakan durasi waktu dari saat suatu proses mulai aktif dalam sistem sampai proses tersebut selesai. Turn around time merupakan hasil penjumlahan antara durasi eksekusi proses terblok (blocked). Durasi proses terblok tergantung pada faktor luar seperti operasi I/O, interval penekanan keyboard oleh pengguna sehingga umumnya tidak diperhitungkan dalam menganalisa suatu algoritma penjadwalan. Sama halnya dengan waiting time, umumnya rata-rata turn around time yang kecil lebih dikehendaki.
  6. Throughput, merupakan rata-rata proses yang dapat diselesaikan per satuan waktu. Algoritma penjadwalan yang baik memiliki nilai throughput yang tinggi. Ini artinya algoritma penjadwalan harus memastikan prosesor bekerja terus menerus serta meminimalkan hal-hal yang tidak berkaitan langsung dengan penyelesaian tugas proses, seperti proses switching. Jika process switching terlalu sering terjadi, berarti waktu prosesor banyak tersita untuk backup/restore konteks prosesor dan bukannya mengeksekusi kode instruksi proses.

Faktor-faktor diatas umumnya saling berbenturan satu sama lain. Misalnya untuk mendapatkan throughput yang tinggi, proses switching perlu diminimalkan, tetapi dapat berdampak pada memperlambat waktu tanggap (response time) bagi pengguna. Penentuan faktor mana yang menjadi prioritas sangat bergantung pada jenis sistem komputernya. Misalnya pada sistem yang interaktif, multiuser, ataupun realtime, faktor respon time menjadi faktor yang paling diprioritaskan dalam merancang algoritma penjadwalan proses. Sementara pada sistem batch, yang mengeksekusi proses-proses secara sekuensial, faktor throughput dan processor utilization menjadi faktor yang paling diutamakan.