Istilah cloud computing ini di ilhami oleh gambar awan (cloud) yang lazim digunakan pada saat seorang menggambarkan diagram jaringan Internet. Dalam praktiknya memang ada kaitan antara cloud computing dan Internet.

Ilustrasi Cloud
Ilustrasi Cloud

 

Cloud Computing adalah sebuah model client-server, dimaa resource seperti server, storage, network dan software dapat dipandang sebagai layanan awan yang dapat diakses oleh pengguna secara remote dan setiap saat. Pengguna dapat menikmati berbagai layanan yang disediakan oleh provider cloud computing , tanpa perlu terlalu banyak meminta bantuan teknis dan support dari pihak provider. Infrastuktur cloud computing seperti : server, storage, network dan berbagai software disebut “cloud”.

Kita sudah menyinggung tetang data center. Ada baiknya sedikit mengupas data center, karena cloud computing dan data center dalam praktinya semakin sulit dipisahkan. Data center (kadang ditulis datacenter) jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yaitu pusat data, adalah suatu fasilitas yang digunakan untuk menempatkan sistem komputer dan komponen-komponen terkaitnya, seperti sistem telekomunikasi dan penyimpanan data. Fasilitas ini biasanya mencakup juga catu daya redudan (cadangan), koneksi komunikasi data redudan pengontrol lingkungan (AC, ventilasi), pencegah bahaya kebakaran seperti piranti keamanan fisik.

Seringkali data center indentik dengan Network Operation Center (NOC). NOC merupakan sebuah area terbatas (tertutup bagi orang luar) dan didalamnya terdapat berbagai fasilitas untuk memonitor aktifitas server ,Web traffic, dan performa network. Dalam praktinya , tentu saja NOC tidak harus satu ruangan dengan server atau perangkat network. Sebaiknya NOC terpisah dari tempat server. Karena ruang server umumnya sangat dingin, kering, dan tidak ramah bagi manusia.

Sebelum sebiah data center dibangun maka desain dan perencanaan data center harus memperhatikan minum aspek berikut:

  1. Lokasi aman, memenuhi syarat cadangan, untuk sistem catudaya, vulkanologi, topografi.

  2. Terproteksi dengan sistem cadangan, untuk sistem catudaya, pengaturan udara/lingkungan, komunikasi data.

  3. Menciptakan tata kelola standar data center, yang meliputi :

    • Standar Prosedur Operasi (SOP)

    • Standar Prosedur Perawatan

    • Standar dan Rencana Pemulihan dan Mitigasi Bencana.

    • Standar Jaminan Kelangsungan Bisnis.

Seperti halnya hotel yang dapat dibedakan dari kelasnya, misal : hotel melati, hotel bintang 3, bintang 4 , bintang 5 dan seterusnya. Sebuah data center pun memiliki kelas atau tingkatan yang disebut Tier.

Lembaga yang membuat spesifikasi tier untuk data center adalah Telecommunications Industry Association (TIA). TIA telah diakreditasi oleh ANSI (American National Standards Institur). Pada tahun 2005, TIA mempublikasikan ANSI / TIA-942, yaitu Telecomunications Infrastructure Standard for Data Centers, yang mendefinisikan empat tingkatan (tier) data center.

Data center paling sederhana didefinisikan sebagai Tier 1. Data center semacam ini hanyalah sebuah ruang server yang mengikuti basic guidelines dalam proses instalasi sistem komputer.

Sedangkan tingkatan data center paling “mewah” adalah Tier4. Data center Tier 4 didisain untuk keperluan critical computer systems, dan menyediakan perangkat serta redudan. Security-nya sangat ketat, lokasi aman, memiliki sistem pendingin yang memenuhi persyaratan dan beberapa persnyaratan lainnya.

Berikut tabel yang berisi spesifikasi masing-masing Tier data center.

Tier

Requirement

1

Komponen semuanya noredudan (server, link dan lain-lain).

Garansi ketersedian ketersedian (availability) sebesar 99.671%.

2

Mencakup semua aspek Tier-1

Komponen sudah redudan

Garansi ketersediaan (avaibility) sebesar 99.741%

3

Mencakup semua aspek Tier 1 dan Tier 2

Sumber Listrik ada dua (dual powered)

Link banyak (multiple)

Semua perangkat harus memilki dua power supply dan kompatibel dengan arsitektur lokasi yang mencakup rak dan pengabelan

Garansi ketersediaan (availability) sebesar 99.982%

4

Mencakup semua aspek Tier 1, Tier 2, Tier 3

 

Semua perangkat pendingin memiliki dua power supply, termasuk chillers, heating , ventilating dan air-conditioning (HVAC) systems

 

Garansi ketersediaan (avaibility) sebesar 99.995%.

Yang dimaksud dengan garansi ketersediaan sebesar 99.982% artinya data center dan semua perangkat yang ada harus beroperasi sebanyak 99.982% pertahun. Artinya data center hanya boleh mengalami down time sebesar (100%-99.982%) = 0,018%.

Jika angka 0.018% dikonversikan dalam bentuk jam, maka kurang lebih down time yang boleh terjadi atau diizinkan untuk data center tersebut hanya sekitar 1.6 jam pertahun. Suatu angka yang cukup kecil dibandingkan jumlah jam dalam satu tahun.

Jika melihat persyaratan sebuah data center maka sangat wajar jika cloud computing sering dipandang sebagai barang mewah. Jika bicara sisi komersial maka hal ini memang benar. Namun ada seidkit ruang bagi kita yang tidak memiliki fasilitas akses atau akses ke data center untuk dapat mengeksplorasi teknologi cloud computing.