Data, Data, dan Data

Sebagai pakar menyatakan bahwa jumlah data yang dihasilkan pada tiga tahun terakhir ini setara dengan banyaknya data yang diproduksi secara akumulatif pada tahun-tahun sebelumnya, sampao awal peradaban manusia.

Hal ini terdengar agak berlebihan. Tapi patut dicatat, menurut perkiraan sekarang ini dunia menghasilkan data 3,5 quintillion byte setiap hari. Ini mulai dari foto yang kuta unggah ke media sosial, informasi terkait ramalan cuaca, sampai dengan deteksi dan kajian luar angkasa. Angka ini merupakan jumlah yang luar biasa besar, dengan delapan belas nol ! Dalam termininologi teknologi informasi, ini adalah data berukuran 2,5 exabyte, kurang lebih sama dengan 1,6 triliun buku, atau 10 juta blue-ray disc yang kalau ditumpuk akan setinggi empat Menara Eifel. Semua dihasilkan setiap hari.

Kemampuan untuk menghasilkan sesuatu dari tumpukan “jerami” data ini menjadi kritis. Belum pernah ada dalam sejarah, menjadi sumber daya sedemikian pentingnya, bukan saja untuk menopang kelangsungan bisnis, tetapi juga menjadi domain bisnis itu sendiri. Ada benarnya ungkapan yang menyatakan bahwa “Data is the New Oil”, seperti pada masa keemasang energi fosil yang menghasilkan kemakmuran negara dan kekayaan individu yang melimpah.

Google, Facebook, Amazon, dan belakangan Microsoft, merupakan raksasa yang mengambil manfaat besar dari penambangan data yang dikoleksinya. Misi Larry Page dan Segey Brin ketika mendirikan Google adalah “mengorganisasikan informasi di dunia dan membuatnya bermanfaat dan bisa diakses secara universal”. Mesin pencari ini sekurang-kurangnya sekarang mengolah 3,5 miliar permintaan pencarian setiap harinya. Mesin pencari pun menjadi mesin uang tatkala pola peselancar melakukan pencarian bisa dipetakan secara komprehensif. Uang ditambang dari pembayaran iklan yang bisa sangat spesifik dan dimunculkan seiring dengan relevansi informasi yang dicari di Google.

Penambangan data ini kemudian menjadi tema untuk perusahaanbaru dan startup. Perusahaan-perusahaan ini mampu mentranslasikan mekanisme untuk mendapatkan “harta karun” yang tersembunyi di belantara data dan informasi yang terserak. Mensistesiskan data, memublikasikan informasi yang kontekstual, menghubungkan penjual dan pembeli, serta memberi pasar kesempatan untuk saling menilai kualitas layanan dan produk yang dinikmati membuat perusahaan-perusahaan ini tumbuh dan membentuk sharing economy yang makin membesar.

AirBnB menjadi perusahaan hotel chain terbesar tanpa memiliki satu hotel pun. Lebihd ari 2,3 juta “kamar hotel” dikelola oleh AirBnB. Angka tersebut melampaui jumlah kamar hotel terbesar, Marriott International, yang “hanya” memiliki lebih dari satu juta kamar, itu pun setelah mengakusisi Starwood Hotel. Uber, perusahaan “jaringan transportasi” yang bermarkas di San Francisco mencatat levih dari 40 juta penumpang setiap bulan, tanpa mesti memiliki taksi atau mobil sendiri. Alibaba, gerai online dari China, dengan lebih dari 8 juta penjual yang tercatat di portalnya, membukukan transaksi penjualan (gross merchandise volume) , lebih dari US$250 miliar pada tahun 2013. Transaksi di Alibaba terus bertumbuh, meskipun Alibaba tidak memiliki inventory dan gudang.

Wawasan Bisnis

Mengubah data menjadi informasi yang berguna, dan pada gilirannya memberikan perspektif bisnis untuk pengambilan keputusan hal baru. Namun dengan ledakan informasi yang dahsyat dan perkembangan teknologi digital, lansekap pola permainannya bisa berbeda. Big data menjadi jargon baru. Kendati banyak unsur yang berhubungan dengan penjualan, big data teteap merupakan satu realitas yang menyergap bisnis baik masa kini maupun masa yang akan datang.

Bahkan big data dapat merambah ranah privasi. Pada beberapa waktu lalu, ada hoax yang menjadi viral tentang lembaga negara (BIN) yang menerapkan teknologi big data dan memonitor serta mencata setiap aktifitas digital semua orang, Ini merupakan sesuatu yang cukup menakutkan, karena mengingatkan kita pada George Orwell, penulis novel terkenal 1984. Novel ini mengisahkan pemerintah yang senantiasa mengawasi gerak-gerik penduduknya secara detail. Mungkin juga membuat kita teringat cerita dalam film Borne Identity, atau Skynet pada film Terminator.

Secara teknis, disiplin dan kompetensi tentang data analytics dan business intelegence menjadi keniscayaan di tengah lautan data digital. Sudah menjadi contoh klasik di kelas-kelas manajemen tentang popok bayi yang diletakkan pada rak yang berdekatan dengan bir pada gerai-gerai toko di Australia pada akhir pekan. Ini berdasarkan analisisyang komprehensif tentang perilaku konsumen. Analisis ini menyatakan bahwa pada akhir pekan ara ayah akan ada acara menonton pertandingan oleh raga diluar, sambil mengasuh balita yang dititipkan para ibunya. Juga ada anlisis tentang lalu lintas komunikasi telepon yang intesif dari kota A ke kota B, yang menginspirasi dibukanya rute penerbangan baru diatara dua kota ini.

Munculnya Go-Jek, dan juga Grab boleh dibilang sangat fenomenal. Mereka secara kreatif dan cerdas, memadukan teknologi digital dengan model bisnis baru serta mendayagunakan kearifan lokal atau local wisdom. Mereka mengintegrasikan layanan transportasi ojek yang sudah ada selama bertahun-tahun sebelumnya. Yang membuat penasaran banyak orang akan revenue stream seperti apa sebenarnya yang hendak dikembangkan? Adakah hal besar lain yang hendak dituju kelak terkait data besar yang mereka kumpulkan, termasuk perilaku konsumen? Tahap “membakar uangnya” sendiri masih berkelanjutan, dan akan ada periode krusial untuk menentukan arah keuntungan bisnisnya. Ini semacam suatu exit strategi, untuk menuju pada tahap berikutnya.

Analisis sistematis terhadap elemen dan variabel data yang demikian banyak bisa memunculkan relasi informasi baru. Ini bisa memberikan peluang bisnis yang tidak terpikirkan sebelumnya atau arah pengambilan keputusan yang berbeda. “Surprise me with new insights”, merupakan frasa yang sering saya kemukakan pada staf yan gberkecimpung dalam analisa data. Tony Juniper, dalam What’s Really Happening to Our Planet yang penuh dengan infografis, mengemukakan angka yang mengejurkan. Ia mengatakan bahwa pada tahun 2016, sebanyak 1 persen dari penduduk dunia memiliki uang lebih banyak dari 99 persen lainnya.

Pada perkembangan selanjutnya , analisis dalam skala yang sudah sangat besar dan kompleks, dari segi volume, kecepatan, maupun ragamnya, akan diotomatiskan secara lebih baik. Semua itu dilakukan dengan algoritma yang makin komprehensif. Interaksi manusia dan mesin akan makin meningkat pada konteks pengumpulan data langsung dari sumbernya dan analisis yang dilakukan berikutnya. Termasuk di dalam hal ini adalah membuat machine learning itu sendiri untuk senantiasa belajar dari interaksi sebelumnya. Tujuannya, mendapatkan hasil analisis dan prediksi yang lebih baik.